Kamis, 21 Juni 2012

Pengantar Ekonomi 2

BAB: 1
PERKEMBANGAN TEORI EKONOMI MIKRO-MAKRO

a.      Teori Ekonomi Mikro Sebagai Teori Ekonomi Klasik
  1. Revolusi Keynes: Lahirnya Teori Ekonomi Makro

a.       Teori Ekonomi Mikro Sebagai Teori Ekonomi Klasik

  Titik awal perkembangan Ilmu Ekonomi Modern dimulai saat Adam Smith (1723-1790) menerbitkan bukunya berjudul An Inquiri into the Nature and Causes of Wealth of Nations, yang kemudian dikenal sebagai Wealth of Nations (1776).
  Analisis Ilmu Ekonomi menggunakan dasar-dasar ilmiah, tanpa Teori Moral dan Teologis. Dasar-dasar ilmiah tsb meliputi gejala-gejala ekonomi seperti Kenaikan Harga Barang dan Pengangguran menunjukkan adanya Gangguan Keseimbangan Sistem Ekonomi.
  Masalah ekonomi akan teratasi jika ekonomi dikembalikan kepada kondisi keseimbangan.
  Alam semesta berjalan teratur, sistem ekonomi pun mampu memulihkan dirinya sendiri (Self Adjustment) karena ada kekuatan pengatur yang disebut Invisible Hands.
  Invisible hands dimaksud adalah Mekanisme Pasar, yaitu suatu mekanisme alokasi sumber daya ekonomi berlandaskan interaksi kekuatan DEMAND dan SUPPLY, yang mampu menjadi alat alokasi sumber daya yang efisien, jika Pemerintah TIDAK IKUT campur dalam perekonomian.

b.      Revolusi Keynes: Lahirnya Teori Ekonomi Makro

  Diawali dengan adanya Great Depression (1929-1933) perekonomian di berbagai negara besar menghadapi masalah besar. Angka pengangguran meningkat, output perekonomian berkurang drastis, investasi merosot tajam.  Terjadi kelesuan ekonomi.  Depresi yang berlangsung lama itu membuyarkan keyakinan terhadap hipotesis ekonomi klasik.
  Tahun 1936 terbit buku berjudul “The General Theory of Employment, Interest and Money” karya ekonom Inggris bernama John Maynard Keynes, melontarkan pendapat untuk memperbaiki keadaan.
  The General Theory menyampaikan dua hal pokok:
  Pertama, kritik terhadap kelemahan Teori Klasik yang idealis (utopian) tentang asumsi pasar, dan terlalu ditekankan masalah ekonomi pada sisi penawaran.
  Kedua, berupa usulan pemulihan perekonomian dengan memasukkan peranan Pemerintah dalam perekonomian dalam rangka menstimulir sisi permintaan.

1.     Fokus pembahasan Ilmu Ekonomi Makro

  Substansi pembahasan Ekonomi Mikro dan Makro adalah bagaimana manusia selaku individu yang rasional mengatasi masalah kelangkaan (Scarcity). Dalam ilmu ekonomi mikro fokus analisisnya adalah perilaku individu seperti; perusahaan (produsen), tenaga kerja dan konsumen dalam konteks yang lebih terbatas (industri).
  Dalam Ilmu Ekonomi Makro dibahas :
  Bagaimana segi demand dan supply menentukan tingkat kegiatan dalam perekonomian
  Masalah-masalah utama yang selalu dihadapi setiap perekonomian
  Peranan Policy dan campur tangan Pemerintah untuk mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi
  Fokus pembahasannya adalah bagaimana perilaku para agen ekonomi dalam konteks agregat (keseluruhan)
  Tujuan cabang ilmu ekonomi makro sama seperti ekonomi mikro, yaitu : melihat apakah sudah terjadi alokasi sumber daya ekonomi yang efisien atau belum?
  Kalau belum, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya.
  Kalau sudah, apakah efisiensi tersebut dapat ditingkatkan lagi atau tidak?

Adapun Cakupan Fokus bahasan Ekonomi Makro adalah :
  1. Masalah inflasi
  2. Masalah pertumbuhan ekonomi
  3. Masalah pengangguran
  4. Interaksi dengan perekonomian dunia
  5. Siklus ekonomi

v  Masalah inflasi
a.    Inflasi adalah kenaikan harga yang bersifat umum dan terus menerus.
b.    Dari sisi teori ekonomi, gejala inflasi menunjukkan terjadinya kelebihan permintaan (Excess Demand) di tingkat makro atau seluruh industri dalam perekonomian.
c.    Inflasi menunjukkan inefisiensi perekonomian secara keseluruhan.
d.    Jika tidak cepat-cepat diatasi, inflasi akan menekan kemampuan perekonomian dalam berproduksi, melemahkan permintaan masyarakat berpenghasilan rendah dan tetap. Berdampak politis yang besar.

v  Masalah pertumbuhan ekonomi
a.       Ekonomi yang bertumbuh adalah ekonomi yang titik keseimbangan antara permintaan agregat dan penawaran agregatnya makin baik dibanding periode sebelumnya.
b.      Mengatasi inflasi dengan memacu Supply Agregat, atau memengaruhi Demand Agregat sampai jumlah yang diinginkan. Peranan pemerintah diperlukan. Jika terjadi kemandekan produksi dan atau permintaan disebabkan oleh terlalu besarnya campur tangan pemerintah, maka peranan pemerintah harus dikurangi. Begitu juga sebaliknya.

v  Masalah pengangguran
a.      Penganggur adalah angkatan kerja (orang yang mencari kerja) tetapi tidak mendapat pekerjaan (spt yang diinginkan). Tingkat pengangguran dinyatakan dalam persen (%) dari angkatan kerja.
b.      Secara teoritis pengangguran yang masih dapat ditolerir adalah sekitar 4-5% per tahun. Jika lebih, akan berdampak politis, hilangnya kepercayaan kepada pemerintah, adanya krisis sosial.
c.       Secara ekonomi, tingkat pengangguran tinggi mempunyai arti bahwa alokasi sumber daya manusia masih belum adil dan atau efisien.
d.      Agar diperhatikan persentase dan angka absolut dari pengangguran.


v  Interaksi dengan perekonomian dunia
a.      Sekarang tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri dalam upaya menyejahterakan rakyatnya.
b.      Kerjasama ekonomi internasional mutlak diperlukan, terutama perdagangan antarnegara.
c.       Yang perlu diperhatikan, apakah kerjasama tsb makin menguntungkan atau merugikan?
d.      Secara ekonomis, keuntungan atau kerugian sebagai dampak kerjasama internasional terdeteksi melalui analisis neraca pembayaran dan atau nilai tukar mata uang.

v  Siklus ekonomi
a.      Dalam kenyataannya, output agregat tidak tumbuh mengikuti pola garis lurus, melainkan mengalami naik turun secara teratur. Gerakan naik turun output agregat ini disebut siklus perekonomian atau siklus bisnis (business cycle). Pola naik turun yang teratur ini mempunyai berbagai tingkat tenggang waktu. Ada yang berjangka pendek (3-11 tahun), jangka panjang (30-70 tahun), bahkan jangka sangat panjang (200 tahun). Tenggang waktu siklus ekonomi sangat tergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Untuk siklus jangka pendek, biasanya lebih disebabkan oleh perubahan musim. Jangka panjang oleh perubahan teknologi, Jangka sangat panjang oleh perubahan tatanan sospol dan kebudayaan.
b.      Siklus ekonomi mendapat perhatian penting dalam teori ekonomi makro, karena dampat-dampak yang ditimbulkannya. Misalnya, resesi ekonomi yang berkepanjangan akan menjerumuskan perekonomian ke keadaan depresi. Sebaliknya ekspansi yang berkepanjangan juga akan menyulut inflasi, kemandekan ekonomi, dan akhirnya juga resesi.
c.      Upaya-upaya pemerintah dalam mengatasi siklus ekonomi disebut kebijakan antisiklus (Anti-cycle Policies)

2.     Peranan Pemerintah

  Peranan Pemerintah dalam ekonomi makro mempunyai porsi yang relatif besar. Kajian terhadap seberapa besar peranan Pemerintah dimanifestasikan dalam pembahasan KEBIJAKAN MONETER dan KEBIJAKAN FISKAL.
  Kebijakan moneter adalah kebijakan mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang lebih baik (yang diinginkan) dengan cara mengubah-ubah jumlah uang beredar.
  Kebijakan fiskal adalah kebijakan mengarahkan perekonomian makro ke kondisi yang lebih baik (yang diinginkan) dengan cara mengubah-ubah penerimaan dan pengeluaran Pemerintah.
  Dalam konteks perekonomian global, kajian peranan pemerintah dimanifestasikan dalam analisis kebijakan ekonomi internasional. Di dalam analisis ini tercakup juga kebijakan moneter dan fiskal dalam perekonomian yang terbuka, yaitu perekonomian yang melakukan transaksi ekonomi dengan perekonomian lain (dunia).

3.     Aliran-aliran pemikiran dalam Teori Ekonomi Makro

  Teori ekonomi makro lahir dari kritik Keynes terhadap Teori Ekonomi Klasik. Sebaliknya, kritik Keynes mendapat tanggapan dari Kaum Klasik sehingga melahirkan aliran pemikiran yang dikenal sebagai Moneteris (Monetarism).
  Perdebatan tiada henti kaum penerus ajaran Klasik dengan Keynesian, melahirkan sintesis-sintesis (teori-teori) baru yang lebih baik dan realistis.
  Dengan teori-teori baru itu ekonomi modern dikelola untuk memberikan hasil maksimal buat masa depan manusia.

Adapun aliran tersebut terbagi atas:
1.      Aliran Klasik (Akumulasi pengetahuan sejak Adam Smith sampai A.C. Pigou (1877-1959)
a.      Pandangan Aliran Klasik tentang Pasar
b.      Pandangan Aliran Klasik tentang Uang
2.      Aliran Keynesian
a.      Pandangan Keynesian tentang Pasar
b.      Pandangan Keynesian tentang Uang

1.      a) Pandangan Aliran Klasik tentang Pasar

Ø  Keseimbangan perekonomian berpondasikan pada keseimbangan individu (konsumen, produsen). Para individu mencapai keseimbangannya jika seluruh sumber dayanya habis digunakan/dikonsumsi dalam rangka mencapai target maksimal (prinsip maksimalisasi hasil), atau target yang ditetapkan tercapai dengan biaya minimal (prinsip minimalisasi biaya).
Ø  Pasar merupakan alat alokasi sumber daya yang efisien, selama struktur pasar adalah persaingan sempurna, informasi sempurna dan simetris, tidak ada barang publik yang memunculkan eksternalitas, input dan output yang diperdagangkan masing-masing bersifat homogen.
Ø  Harga yang terbentuk merupakan interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran.
Ø  Harga yang terbentuk merupakan harga keseimbangan . Bila terjadi kelebihan permintaan atau penawaran, maka kekuatan permintaan dan penawaran berinteraksi kembali, sehingga terbentuk harga keseimbangan baru (harga bergerak dengan sangat fleksibel), dengan catatan bahwa proses interaksi tersebut dapat berjalan seketika itu juga.

1.      b) Pandangan Aliran Klasik tentang Uang
Ø  Uang tidak lebih sebagai alat transaksi (medium of exchange). Tidak punya pengaruh terhadap variabel-variabel riil (output dan kesempatan kerja).
Ø  Uang hanya berpengaruh thd variabel-variabel moneter, misalnya harga barang. Karenanya antara sektor riil dengan sektor moneter tidak ada keterkaitan, atau dengan kata lain, ada dikotomi (pemisahan) antara sektor riil dengan sektor moneter (Classical Dichotomy).
Ø  Implikasinya, tidak diperlukan peran pemerintah dalam perekonomian, sebab fleksibilitas harga akan mendorong terjadinya alokasi sumber daya yang efisien.
Ø  Dalam aliran klasik terdapat dua pandangan.
Ø  Pertama, pandangan yang sangat menolak peran Pemerintah dari aliran Klasik Baru (Real Business Cycle).
Ø  Kedua, yang masih dapat menerima peran Pemerintah, selama hanya melalui kebijakan moneter, dari aliran Monetarism.

2.      a) Pandangan Keynesian tentang Pasar
Ø  Pandangan thd pasar berbanding terbalik dari Klasik. Dalam kenyataannya struktur pasar cenderung monopolistik, informasi tidak sempurna dan asimetris. Input dan ouput yang dipertukarkan heterogen. Harga cenderung kaku (rigid) atau susah berubah seketika. Price rigidities menyebabkan pasar tidak mampu melakukan keseimbangan (non-market clearing). Akibatnya, gangguan-gangguan perekonomian cenderung untuk memunculkan resesi.

2.      b) Pandangan Keynesian tentang Uang
Ø  Uang bukan sekedar medium of exchange, tapi juga sebagai penyimpan nilai (store of value). Fungsi penyimpan ini memungkinkan uang digunakan sebagai alat memperoleh keuntungan melalui tindakan spekulasi.
Ø  Uang tidak bersifat netral, dapat mempengaruhi variabel-variabel riil (ouput dan kesempatan kerja).
Ø  Di sini dikotomi klasik tidak relevan.
Ø  Pewran pemerintah diperlukan dalam pengelolaan perekonomian, baik melalui fiskal maupun monetary policies.

4.Memahami Model Ekonomi Makro

Merupakan tindakan penyederhanaan realitas ekonomi yang sangat kompleks, melalui pemahaman thd klasifikasi-klasifikasi model sbb:
a.       Model Klasik Versus Keynesian
b.      Model Tiga Pasar
c.       Model Keseimbangan dan Ketidakseimbangan
d.      Model Statis, Statis Komparatif, dan Dinamis
e.       Model Ekonomi Tertutup dan Terbuka

a.       Model Klasik Versus Keynesian
  Dilihat dari asumsi tentang Pasar dan Uang.
  MODEL KLASIK : Jika pasar diasumsikan berstruktur persaingan sempurna, campur tangan Pemerintah relatif kecil, sementara uang bersifat netral.
  MODEL KEYNESIAN : Jika pasar diasumsikan berstruktur bukan persaingan sempurna, uang tidak bersifat netral dan campur tangan Pemerintah diperlukan.

b.      Model Tiga Pasar
  Model-model ekonomi makro, baik Klasik maupun Keynesian, dibangun berdasarkan asumsi bahwa perekonomian terdiri atas tiga pasar, yaitu :
-      Pasar Tenaga Kerja
-      pasar Barang dan Jasa
-      Pasar Uang (Finansial)
  Keseimbangan makro tercapai ketika pasar, baik secara individu maupun bersamaan, telah mencapai keseimbangan.

c.       Model Keseimbangan dan Ketidakseimbangan
  Model keseimbangan (Equilibrium Model) adalah model yang analisisnya berlandaskan asumsi perekonomian akan senantiasa mencapai keseimbangan.
  Model ketidakseimbangan (Disequilibrium Model) adalah model yang analisisnya berlandaskan asumsi bahwa perekonomian tidak selalu berada dalam keseimbangan.
d.       Model Statis, Statis Komparatif, dan Dinamis
  Model Statis (Static Model) adalah model ekonomi makro yang mengabaikan dimensi waktu. Analisi ekonomi (keseimbangan dan ketidakseimbangan) dilakukan pada suatu keadaan tertentu.
  Model Statis Komparatif (Comparative Static Model) adalah moel ekonomi yang membandingkan kondisi keseimbangan dari suatu kondisi ke kondisi yang lain.
  Model Dinamis (Dynamic Model) adalah model ekonomi yang analisisnya mempertimbangkan perubahan dari waktu ke waktu.

e.        Model Ekonomi Tertutup dan Terbuka
  Model Ekonomi Tertutup (Closed Economy Model) adalah model ekonomi yang mengasumsikan bahwa perekonomian tidak melakukan transaksi dengan perekonomian lain/ dunia (rest of the world).
  Model Ekonomi Terbuka (Open Economy Model) mengasumsikan bahwa perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain/dunia.



BAB: 2
PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL

1. Siklus Aliran Pendapatan (Circular Flow) dan Interaksi Antarpasar
a.  Siklus Aliran Pendapatan (Circular Flow)
Siklus aliran pendapatan (circular flow) adalah sebuah model yang menggambarkan bagaimana interaksi antarpelaku ekonomi menghasilkan pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran dalam upaya memaksimalkan nilai kegunaan (utility) masing-masing pelaku ekonomi.
Model Circular Flow membagi perekonomian menjadi empat sektor:
 1. Sektor Rumah Tangga (Households Sector), yang terdiri atas sekumpulan individu yang  dianggap homogen dan identik.
 2. Sektor Perusahaan (Firms Sector), yang terdiri atas sekumpulan perusahaan yang memproduksi barang dan jasa.
 3. Sektor Pemerintah (Government Sector), yang memiliki kewenangan politik untuk mengatur kegiatan masyarakat dan perusahaan.
 4. Sektor Luar Negeri (Foreign Sector), yaitu sektor perekonomian dunia, di mana perekonomian melakukan transaksi ekspor-impor.
b. Tiga Pasar Utama (Three Basic Markets)
Untuk analisis ekonomi makro, pasar-pasar yang begitu banyak dikelompokkan menjadi tiga pasar utama (Three Basic Markets):
            1) Pasar Barang dan Jasa (Goods and Services Market)
            2) Pasar Tenaga Kerja (Labour Market)
            3) Pasar Uang dan Modal (Money and Capital Market)
 1) Pasar barang dan Jasa
Pasar barang dan jasa adalah pertemuan antara permintaan dan penawaran barang dan jasa. Dalam perekonomian tertutup, permintaan utamanya berasal dari sektor rumah tangga dan pemerintah. Permintaan tersebut umumnya merupakan permintaan barang dan jasa akhir. Penawaran barang dan jasa berasal dari sektor perusahaan.
2) Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja adalah interaksi antara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Dalam perekonomian tertutup, penawaran tenaga kerja berasal dari sektor rumah tangga. Sedangkan permintaannya berasal dari sektor perusahaan dan sektor pemerintah. Dalam perekonomian terbuka, penawaran dan permintaan tenaga kerja dapat berasal dari sektor luar negeri.
3) Pasar Uang dan Modal
Pasar uang adalah interaksi antara permintaan uang dengan penawaran uang. Yang diperjualbelikan dalam pasar uang bukanlah fisik uang, melainkan hak penggunaan uang. Penawaran uang berasal dari pihak-pihak yang bersedia menunda hak penggunaan uangnya, entah dalam jangka pendek atau jangka panjang. Permintaan akan uang berasal dari pihak-pihak yang membutuhkan uang dengan berbagai alasan.
Jika hak penggunaan uang yang diperjualbelikan adalah setahun atau kurang, maka pasar tersebut masuk kategori pasar uang (money market). Jika hak penggunaan uang yang diperjualbelikan lebih dari setahun, pasar tersebut adalah pasar modal (capital market).
2. Metode-metode Perhitungan Pendapatan Nasional
Ada tiga cara penghitungan pendapatan nasional, yaitu:
            1) Metode Output (Output Approach)
            2) Metode Pendapatan (Income Approach)
            3) Metode Pengeluaran (Expenditure Approach)
1).  Metode Output (Output Approach) atau Metode Produksi
Menurut metode ini, PDB adalah total output (produksi) yang dihasilkan oleh suatu perekonomian. Cara penghitungan dalam praktik adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sektor produksi (industrial origin). Jumlah output masing-masing sektor merupakan jumlah output seluruh perekonomian. Hanya saja, ada kemungkinan bahwa output yang dihasilkan suatu sektor perekonomian berasal dari output sektor lain. Atau bisa juga merupakan input bagi sektor ekonomi yang lain lagi. Dengan kata lain, jika tidak berhati-hati akan terjadi penghitungan ganda (double counting) atau bahkan multiple counting. Akibatnya angka PDB bisa menggelembung beberapa kali lipat dari angka yang sebenarnya. Untuk menghindari hal tersebut, maka dalam perhitungan PDB dengan metode produksi, yang dijumlahkan adalah nilai tambah (value added) masing-masing sektor.
Aktivitas produksi yang baik adalah aktivitas yang menghasilkan NT > 0. Dengan demikian besarnya PDB adalah:
2). Metode Pendapatan (Income Approach)
Metode pendapatan memandang nilai output perekonomian sebagai nilai total balas jasa atas faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi.
Kemampuan entrepreneur ialah kemampuan dan keberanian mengombinasikan tenaga kerja, barang modal, dan uang untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Balas jasa untuk tenaga kerja adalah upah atau gaji. Untuk barang modal adalah pendapatan sewa. Untuk pemilik uang/aset finansial adalah pendapatan bunga. Sedangkan untuk pengusaha adalah keuntungan. Total balas jasa atas seluruh faktor produksi disebut Pendapatan Nasional (PN).
3). Metode Pengeluaran (Expenditure Approach)
Menurut metode pengeluaran, nilai PDB merupakan nilai total dalam perekonomian selama periode tertentu. Menurut metode ini ada beberapa jenis agregat dalam suatu perekonomian:
            1) Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)
            2) Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
            3) Pengeluaran Investasi (Investment Expenditure)
            4) Ekspor Neto (Net Export)
1)Konsumsi Rumah Tangga (Household Consumption)
Pengeluaran sektor rumah tangga dipakai untuk konsumsi akhir, baik barang dan jasa yang habis dalam tempo setahun atau kurang (durable goods) maupun barang yang dapat dipakai lebih dari setahun/barang tahan lama (non-durable goods).
2) Konsumsi Pemerintah (Government Consumption)
Yang masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah adalah pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang digunakan untuk membeli barang dan jasa akhir (government expenditure). Sedangkan pengeluaran-pengeluaran untuk tunjangan-tunjangan sosial tidak masuk dalam perhitungan konsumsi pemerintah.
3) Pembentukan Modal Tetal Domestik Bruto (Investment Expenditure)
Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) merupakan pengeluaran sektor dunia usaha. Yang termasuk dalam PMTDB adalah perubahan stok, baik berupa barang jadi maupun barang setengah jadi.
4) Ekspor Neto (Net Export)
Yang dimaksud dengan ekspor bersih adalah selisih antara nilai ekspor dengan impor. Ekspor neto yang positif menunjukkan bahwa ekspor lebih besar daipada impor. Perhitungan ekspor neto dilakukan bila perekonomian melakukan transaksi dengan perekonomian lain (dunia).


3. Beberapa Pengertian Dasar Tentang Perhitungan Agregatif
Tujuan perhitungan output maupun pengeluaran dan ukuran-ukuran agregat lainnya adalah untuk menganalisis dan menentukan kebijakan ekonomi guna memperbaiki/meningkatkan kemakmuran/kesejahteraan rakyat. Beberapa pengertian yang harus dipelajari berkaitan dengan hal tersebut adalah:
a. Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
b. Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
c. Produk Nasional Neto (Net National Product)
d. Pendapatan Nasional (National Income)
e. Pendapatan Personal (Personal Income)
f. Pendapatan Personal Disposabel (Disposable Personal Income)
a.      Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
Produk Domestik Bruto (PDB) menghitung hasil produksi suatu perekonomian tanpa memperhatikan siapa pemilik faktor produksi tersebut. Semua faktor produksi yang beralokasi dalam perekonomian tersebut output-nya diperhitungkan dalam PDB. Akibatnya, PDB kurang memberikan gambaran tentang berapa sebenarnya output yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik perekonomian domestik.
b. Produk Nasional Bruto (Gross National Product)

Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor-faktor produksi milik perekonomian disebut sebagai Produk Nasional Bruto (PNB). Kelemahan perhitungan PDB dapat dikoreksi dengan mengurangkan nilai produksi yang dihasilkan faktor produksi yang berasal dari luar perekonomian. Nilai produksi yang dihasilkan oleh faktor produksi yang berada di luar negeru harus ditambahkan. Angka yang dihasilkan dari penjumlahan dan pengurangan terhadap PDB merupakan Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product.
c. Produk Nasional Neto (Net National Product)
Sektor perusahaan harus melakukan investasi untuk memproduksi barang dan jasa. Dalam perhitungan PDB berdasarkan pendekatan pengeluaran, yang dimasukkan adalah total pengeluaran investasi bruto. Padahal yang lebih relevan adalah investasi neto, yaitu investasi bruto dikurangi depresiasi. Karena itu untuk memperoleh gambaran output yang lebih akurat, maka PNB harus dikurangi depresiasi. Angka yang dihasilkan merupakan Produk Nasional Neto (PNN).
PNB = Produk Nasional Bruto (Gross National Product)
d. Pendapatan Nasional (National Income)
Angka PN dapat diturunkan dari angka PNN. Untuk mendapatkan angka PN dari PNN, kita harus mengurangi PNN dengan angka pajak tidak langsung (PTL) dan menambahkan angka subsidi (S). Pajak tidak langsung harus dikurangkan, karena tidak mencerminkan balas jasa atas faktor produksi. Sedangkan subsidi harus ditambahkan karena merupakan balas jasa atas faktor produksi, tetapi tidak masuk dalam perhitungan PNN.
PN = Pendapatan Nasional (National Income)
PNN = Produk Nasional Neto (Net National Product)
PTL = Pajak Tidak Langsung
S = Subsidi

e. Pendapatan Personal (Personal Income)
Untuk memperoleh angka PP dari PN maka laba perusahaan yang tidak dibagikan (retained earnings) harus dikurangkan, sebab laba tidak dibagikan (LTB) merupakan hak perusahaan. Selain LTB, pembayaran-pembayaran asuransi sosial (PAS) atau social insurance payments juga harus dikurangkan. Kedua pengurangan ini belum memberikan informasi yang sebenarnya tentang pendapatan personal. Sebab pendapatan personal bukan saja diterima karena balas jasa atas kesediaan bekerja (upah, gaji) ataupun pendapatan nonupah yang diperoleh dari sektor perusahaan, tetapi juga pendapatan bunga yang diterima dari pemerintah dan konsumen (PIGK) atau personel interest income received from government and consumers dan pendapatan non balas jasa (PNBJ) atau transfer payment to persons.
PP = Pendapatan Personal (Personal Income)
PN = Pendapatan Nasional (National Income)
PAS = Pembayaran Asuransi Sosial
PIGK = Pendapatan bunga diterima dari pemerintah dan konsumen
PNBJ = Pendapatan Nonbalas Jasa
f. Pendapatan Personal Disposabel (Disposable Personal Income)
Pendapatan personal Disposabel (PPD) adalah pendapatan personal yang dapat dipakai oleh individu, baik untuk membiayai konsumsinya maupun untuk ditabung. Besarnya adalah pendapatan personal dikurangi pajak atas pendapatan personal (PAP) atau personal taxes.
4. PDB Harga Berlaku dan Konstanta
Menghitung nilai hasil PDB dengan menggunakan harga berlaku dapat memberi hasil yang menyesatkan, karena pengaruh inflasi. Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat, maka perhitungan PDB sering menggunakan perhitungan berdasarkan harga konstan. Hasil perhitungan ini menghasilkan nilai PDB atas harga konstan. Yang dimaksud dengan harga konstan adalah harga yang dianggap tidak berubah.
Untuk memperoleh PDB harga konstan, kita harus menentukan tahun dasar (based year), yang merupakan tahun di mana perekonomian berada dalam kondisi baik/stabil. Harga barang pada tahun tersebut kita gunakan sebagai harga konstan.
Deflator = (Harga tahun t : Harga tahun t-1) x 100%
Manfaat dari perhitungan PDB harga konstan, selain dengan segera dapat mengetahui apakah perekonomian mengalami pertumbuhan atau tidak, juga dapat menghitung perubahan harga (inflasi).
5. Manfaat dan Keterbatasan Perhitungan PDB
a. Perhitungan PDB dan Analisis Kemakmuran
Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran suatu negara, dengan cara membaginya dengan jumlah penduduk. Angka tersebut dikenal sebagai angka PDB per kapita. Biasanya makin tinggi angka PDB per kapita, kemakmuran rakyat dianggap makin tinggi.
Kelemahan dari pendekatan ini adalah tidak terlalu memerhatikan aspek distribusi pendapatan. Akibatnya angka PDB per kapita kurang memberikan gambaran yang lebih rinci tentang kondisi kemakmuran suatu negara.

b. Perhitungan PDB dan masalah kesejahteraan sosial
Perhitungan PDB maupun PDB perkapita juga dapat digunakan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan sosial suatu masyarakat. Ada hubungan yang positif antara tingkat PDB per kapita dengan tingkat kesejahteraan sosial. Makin tinggi PDB per kapita, tingkat kesejahteraan sosial makin membaik. Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan logika sederhana. Jika PDB per kapita makin tinggi, maka daya beli masyarakat, kesempatan kerja serta masa depan perekonomian makin membaik, sehingga gizi, kesehatan, pendidikan, kebebasan memilih pekerjaan dan masa depan, kondisinya makin meningkat. Hanya saja, logika di atas baru dapat berjalan bila peningkatan PDB per kapita disertai perbaikan distribusi pendapatan.
Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak diperhatikannya dimensi nonmaterial. Sebab PDB hanya menghitung output yang dianggap memenuhi kebutuhan fisik/materi yang dapat diukur dengan nilai uang. PDB tidak menghitung output yang tidak terukur dengan uang, misalnya ketenangan batin yang diperoleh dengan menyandarkan hidup pada norma-norma agama/spiritual. Sebab, dalam kenyataannya kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kemakmuran, tetapi juga ketenangan batin/spiritual.
c.PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
Sampai batas-batas tertentu, angka PDB per kapita dapat mencerminkan tingkat produktivitas suatu negara.
Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antarnegara, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
1). Jumlah dan komposisi penduduk: Bila jumlah penduduk makin besar, sedangkan komposisinya sebagian besar adalah penduduk usia kerja (15-64 tahun) dan berpendidikan tinggi (> SLA), maka tingkat output dan produktivitasnya dapat makin baik.
2) Jumlah dan struktur kesempatan kerja: Jumlah kesempatan kerja yang makin besar memperbanyak penduduk usia kerja yang dapat terlibat dalam proses produksi. Tetapi komposisi kerja pun mempengaruhi tingkat produktivitas.
3) Faktor-faktor nonekonomi: Yang tercakup dalam faktor-faktor nonekonomi antara lain etika kerja, tata nilai, faktor kebudayaan dan sejarah perkembangan.

d. Penghitungan PDB dan Kegiatan-kegiatan Ekonomi Tak Tercatat (Underground Economy)
Angka statistik PDB Indonesia yang dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik hanya mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu, statistik PDB belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu negara. Misalnya, upah pembantu rumah tangga di Indonesia tidak tercatat dalam statistik PDB. Begitu juga dengan kegiatan petani buah yang langsung menjual produknya ke pasar.
Di negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih disebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan informal. Tetapi di negara-negara maju, kebanyakan kegiatan ekonomi yang tak tercatat bukan karena kelemahan administratif, melainkan karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan ilegal atau melawan hukum. Padahal, nilai transaksinya sangat besar. Misalnya, kegiatan penjualan obat bius dan obat-obat terlarang lainnya.
6. Distribusi Pendapatan (Income Distribution)
Distribusi Pendapatan adalah apabila corak distribusi berubah sama dengan permintaan yang berubah.
Contoh: Bila pajak dinaikkan pada tarif orang kaya, otomatis permintaan akan menurun dan kebalikannya. Pajak hasil yang telah diterima kan diberi kepada orang yang berpendapatan rendah otomatis permintaan akan bertambah kembali.
7. Distribusi Kekayaan (Wealth Distribution)
Di negara kapitalis maju, alternatif individu untuk menyimpan kekayaannya sangat beragam. Mereka dapat membeli saham, obligasi, menyimpan dalam bentuk deposito dan aset-aset finansial lainnya. Selain aset finansial, mereka juga dapat membeli real estat. Tujuan pemupukan aset adalah peningkatan pendapatan total di masa mendatang. Dengan makin besarnya aset, penghasilan non gaji (non wages income) makin besar. Dengak kata lain, di negara maju orang senantiasa membeli aset produktif. Karena itu pembahasan distribusi kekayaan amat relevan untuk melihat perkembangan distribusi pendapatan. Pengukuran distribusi kekayaan dilakukan dengan menghitung kelompok-kelompok mana saja yang paling menguasai jenis-jenis aset tertentu.

2 komentar:

  1. Iya sama". Smoga bermanfaat yah ... :)
    ohh jadi kamu jga fakultas ekonomi jga....

    BalasHapus
  2. Backgroundnya tidak cocok dengan warna font yang digunakan. Tidak nyaman buat bacanya.

    BalasHapus